Kenapa ibuku
selalu memarahiku? Padahal aku ini katanya cantik, pintar anak bungsu lagi, aku
merasa ibu lebih menyayangi kakak ku Hanif, apa karena dia laki-laki dan mirip
almarhum ayahku? Padahal aku mestinya menggugat ibuku untuk lebih menyayangiku,
karena aku dari kecil dititipin di tanteku, dan baru 2 tahun lalu aku baru
bersama ibuku, sementara kakakku
dilimpahi kasih sayang sejak dia lahir dan tidak pernah terpisah dari ibuku.
Aku memang
selalu menanyakan kasih sayang ibuku untukku, karena foto-foto kebersamaannku
dengan ibuku dan ayahku sangat kurang, Cuma satu, sementara kakakku Hanif
sepertinya setiap tahap perkembangannya semua didokumentasikan belum lagi
foto-foto jalan-jalan mereka, ke pantai, ke gunung dan ke acara-acara keluarga
..huh aku cemburu dibakar cemburu. Kata ibuku, jangan nilai perhatian dan kasih
sayang hanya dari situ, dan pada saat aku bayi dan lagi lucu-lucunya ibuku sibuk mengurusi ayahku yang sakit,
makanya kau jarang difoto.
Ibuku memang
sering menciumiku, memelukku khususnya jika aku minta, tapi perlakuan itu
bagiku tidak cukup dibanding marah-marahnya mulai dari aku bangun yang suka
telat sehingga menyebabkan beliau terlambat ke kantor, dan gajinya dipotong, sampai aku menuju tidur
yang suka begadang, yang katanya mengganggu jadwal tidurnya.
Kemarahan
ibuku kadang tidak terkendali jika aku meminta dibelikan ini dan dibelikan itu,
atau mau jalan ke toko buku Agung, gramedia beli buku, spidol buku, pinsil,
rautan… “aduh amiraahhh masa tiap minggu beli spidol sama pinsil sih, kamu
apakan itu barang2 kah, dijaga dong…ibu beli itu pake uaang… “ teriak ibuku
Tapi kalau
kakakku Hanif yang minta dibelikan, jarang pake marah…akupun protes.
“karena
kakakmu dia beli memang yang dia butuhkan…” kata ibuku
Apa bedanya?
Kan aku juga butuh…Ahhhh ibuku, padahal aku ingin lebih disayang ibuku seperti
aku sayang padanya, aku selalu memberikan dia pujian, mengatakan padanya ibu
cantik, meghujaninya kata-kata I love you, gambar-gambar diriku dan gambarnya
yang kubuat secantik mungkin, yang kadang
kuselipkan di dompetnya, atau kutuliskan di buku2 notesnya, atau ku sms
titip di hp kakakku.
Tapi kadang
ibuku tidak melihatnya, atau pura-pura membacanya, dan mengucapkan terima kasih.
Aku sedih kalau mengingat itu semua
Sampai suatu
hari, kemarahannya yang meledak nyaris saja membuat beliau menyesal seumur
hidupnya.
Saat itu
tanggal 11 nopember pas hari minggu, kakakku dan kakak Yus sepupuku udah duluan
bangun dan kerja bakti. Aku yang memang suka terlambat bangun, hari itu
lagi-lagi terlambat bangun. Biar
dibilang ikut kerja bakti begitu bangun langsung aku ambil selang dan menyiram
bunga, karena merasa sudah membantu aku nagih sama ibuku, untuk dibelikan buku
cetak, jadi aku minta diantar ke gramedia, kalau tidak ada di gramedia di Ramayana, kalau tidak
ada harus diantar ke agung, mendengar berondongan permintaanku yang membuat
beliau seperti tidak bernafas diapun tidak sengaja menjatuhkan pisau yang
hampir saja melayang ke aku, dan mengenai dadaku.. rasa perih karena goresn
pisau itu sepertinya tidak berarti dibanding luka goresan sakit di hatiku…oh
ibuku, Tuhan masih menyayangi melindungi aku dan ibuku sehingga tidak terjadi
apa-apa.
Ibuku
langsung memelukku dan menggendongku dan menangis meraung-raung penuh
penyesalan minta maaf padaku dan pada Allah Yang Maha Pencipta yang telah
menitipkan aku pada ibuku.
Berhari-hari
dan setiap saat khususnya saat tengah malam ibuku menangis sholat taubat, dan
memelukku sepertinya tidak akan melepasku. Melihat penyesalan yang begitu dalam
aku melukis ibuku secantik mungkin dan menempelnya di kulkas.
Memang
setelah kejadian itu, ibuku jarang marah padaku meski masih tetap marah. Meski
aku masih selalu membuatnya terlambat ke kantor karena ulahku yang selalu telat
bangun.
Tadi malam
sekitar jam 2 malam, samar-samar diantara nyenyak tidurku aku melihat ibuku
bercucuran air mata sambil membelaiku menciumiku dan berjanji akan lebih sayang
sama aku dan tidak akan memarahiku..apapun ulahku…
Diantara
tidur nyenyak dan alam mimpiku, aku juga berjanji tidak akan membuat ibuku
marah, aku akan menuruti apa kata-katanya, lebih rajin sholat lebih rajin
berdoa untuknya dan untuk almarhum ayahku dan…tidak lagi bangun terlambat…I
love You Mom.
By Andri Amirah Sultanadaku
No comments:
Post a Comment